Beban Pencemaran Limbah Tambak Udang terhadap Perairan Pesisir di Kecamatan Jembrana Kabupaten Jembrana
DOI:
https://doi.org/10.36733/alamlestari.v10i2.13665Keywords:
Udang, Pencemaran, Limbah tambak, Perairan, Pesisir, IPALAbstract
Sistem budidaya udang secara intensif berdampak pada buangan limbah yang mengandung konsentrasi tinggi bahan organik dan nutrien terlarut ke dalam perairan pesisir di Kecamatan Jembrana Kabupaten Jembrana. Hal tersebut telah menimbulkan serangan penyakit EHP (Enterocytozoon hepatopenaei) dengan prevalensi mencapai 100% dan penurunan produksi sebesar 21,5%. Maka dari itu perlu melakukan penelitian yang bertujuan untuk menganalisis pengetahuan dan sikap pembudidaya udang terhadap tindakan dalam pengendalian beban pencemaran limbah tambak udang terhadap perairan pesisir, beban pencemaran limbah tambak udang, efisiensi kinerja IPAL dan status pencemaran perairan pesisir di Kecamatan Jembrana. Penelitian ini menggunakan metode survei dan angket. Pengumpulan data dilakukan melalui pengukuran kualitas air secara insitu dan analisa laboratorium serta penyebaran kuesioner. Data kuesioner dianalisis secara deskriptif dan inferensial dengan teknik analisis regresi linier berganda. Pengambilan sampel air dilakukan secara integrated sampel dalam dua tahap pada enam stasiun pengambilan sampel yang ditentukan secara purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan dan sikap pembudidaya udang berpengaruh positif dan signifikan terhadap tindakan dalam pengendalian beban pencemaran limbah tambak udang terhadap perairan pesisir. Beberapa parameter kualitas air limbah tambak udang telah melewati batas maksimum baku mutu yaitu ammonia bebas pada stasiun 1,2,3,4, dan 5, nitrat pada stasiun 1,2,3,4,5, dan 6, dan posfat pada stasiun 5 dan 6. Indeks pencemaran pada perairan pantai dengan nilai (Pij) sebesar 7,67 dan 11,09 dan perairan laut dengan nilai (Pij) sebesar 7,70 dan 6,93. Kinerja IPAL tambak udang termasuk katagori kurang efisien dan tidak efisien serta status pencemaran perairan pesisir termasuk dalam katagori cemaran sedang dan cemaran berat. Perlu adanya edukasi penerapan IPAL secara efisien dan pembinaan cara budidaya ikan yang baik kepada pembudidaya udang secara berkesinambungan.
References
Abdulgani, H., Izzati, M., & Sudarno, S. 2014. Kemampuan tumbuhan Typha angustifolia dalam sistem subsurface flow constructed wetland untuk pengolahan limbah cair industri kerupuk (Studi kasus limbah cair sentra industri kerupuk Desa Kenanga Kecamatan Sindang Kabupaten Indramayu Jawa Barat). Bioma: Berkala Ilmiah Biologi, 16(2), 90-101.
Boyd CE,. Wood CW. and Tunjai T. 2002. Aquaculture Pond Bottom Soil Quality Management, Pond Dynamics/ Aquaculture Collaborate Research Support Program Oregon State Univesity. Oregon.
Davis, D.A., T.M. Samocha, C.E. Boyd. 2004. Acclimating Pacific White Shrimp, Litopenaeus vannamei, to Inland, Low-Salinity Waters. SRAC Publication No. 2601. 8 p.
Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air. Bagi Pengelolan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Kanisius. Yogyakarta
Kariada, N. T., & Irsadi, A. (2014). Peranan mangrove sebagai biofilter pencemaran air wilayah tambak bandeng Tapak, Semarang (Role of mangrove as water pollution biofilter in milkfish pond, Tapak, Semarang). Jurnal manusia dan lingkungan, 21(2), 188-194.
Muqsith, A. (2014). Quantification Total Waste of Organic Suspended Solids (TSS ) Issued From A Course Of Shrimp Farms In Intensive. Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan, 5(2), 46-52.
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup. 2003. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 115 Tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air. Jakarta : Menteri Negara Lingkungan Hidup, 1–15. http://medcontent.metapress.com/index/A65RM03P4874243N.pdf
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 51 Tahun 2004 tentang Baku Mutu Air Laut
Muqsith, A., Harahab, N., Mahmudi, M., & Fadjar, M. 2018. Estimation of Coastal Asimilation Capacity Based on Standard Effluent Waste Nitrogen and Phosforus of Shrimp Cultivation. Samakia : Jurnal Ilmu Perikanan, 9(2), 81–87. https://doi.org/10.35316/jsapi.v9i2.229
Padang, B. B., Fahrudin, A., & Effendi, I. 2019. Kajian Beban Limbah Budidaya Ikan Terhadap Lingkungan Perairan Pesisir Holtekam Kota Jayapura Provinsi Papua. 2(2), 75–81. https://doi.org/10.31957/acr.v2i2.1069
Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 75/PERMEN-KP/2016 Tahun 2016 tentang Pedoman Umum Pembesaran Udang Windu (Penaeus Monodon) Dan Udang Vaname (Litopenaeus Vannamei)
Rahmawati, ST. Chadijah, Asriani Ilyas. 2013. Analisa Penurunan Kadar COD dan BOD Limbah Cair Laboratorium Biokimia Uin Makasar Menggunakan (Fly Ash) Abu Terbang Batubara. Jurusan Kimia. Fakultas Sains Dan Teknologi. UIN Alauddin
Supriyantini, E., Nuraini, R. A. T., & Fadmawati, A. P. 2017. Studi Kandungan Bahan Organik Pada Beberapa Muara Sungai Di Kawasan Ekosistem. Buletin Oseanografi Marina, 6(1), 29–38.
Simbolon A. R. 2016. Pencemaran Bahan Organik Dan Eutrofikasi Di Perairan Cituis, Pesisir Tangerang, Jurnal Pro-Life, Vol 3 Nomor 2, Juli 2016.
Widyastuti E., Sukanto, Setyaningrum N. 2015. Pengaruh Limbah Organik terhadap Status Tropik, Rasio N/P serta Kelimpahan Fitoplanktondi Waduk Panglima Besar Soedirman, Kabupaten Banjarnegara, Jurnal Biosfera Vol 32 No 1 Januari 2015.
Wulandari, T., Widyorini, N., & Purnomo, P. W. 2015. Hubungan pengelolaan kualitas air dengan kandungan bahan organik, NO2 dan NH3 pada budidaya udang vannamei (Litopenaeus vannamei) di Desa Keburuhan Purworejo. Management of Aquatic Resources Journal (Maquares), 4(3), 42-48.
Yudo, S., & Said, N. I. 2018. Status Kualitas Air Sungai Ciliwung di Wilayah DKI Jakarta Studi Kasus: Pemasangan Stasiun Online Monitoring Kualitas Air di Segmen Kelapa Dua –Masjid Istiqlal. Jurnal Teknologi Lingkungan, 19(1), 13-22.