PELATIHAN MEBAT SEBAGAI KEARIFAN LOKAL, PELESTARIAN BUDAYA, DAN KETERAMPILAN BAGI GENERASI MILENIAL

  • Gusti Ayu Muni Kharisma Nilla Sari Akuntansi, Ekonomi dan Bisnis, Universitas Mahasaraswati Denpasar
  • Ni Kadek Megayani Akuntansi, Ekonomi dan Bisnis, Universitas Mahasaraswati Denpasar
  • Ayu Eka Septyani Akuntansi, Ekonomi dan Bisnis, Universitas Mahasaraswati Denpasar
  • I Gede Cahyadi Putra Akuntansi, Ekonomi dan Bisnis, Universitas Mahasaraswati Denpasar
Keywords: Mebat, Seka Teruna, budaya, kearifan lokal

Abstract

Tradisi mebat merupakan salah satu tradisi turun temurun yang keberadaannya tetap eksis sampai saat ini. Mebat adalah kegiatan memasak makanan secara bersama-sama yang mengutamakan gotong royong. Mebat biasanya identik dengan nampah (memotong hewan) seperti ayam, itik dan babi untuk dimasak. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada hari penampahan Galungan yaitu satu hari menjelang hari raya Galungan. Makanan yang dihasilkan dari mebat antara lain lawar, sate, komoh, be balung, tum dan lainnya sebagai makanan khas umat Hindu di Bali. Kebiasaan masyarakat Bali berkumpul bersama keluarga sebelum merayakan hari raya kemenangan Dharma melawan Adharma keesokan harinya. Guna merayakan kemenangan tersebut mereka biasa masak bersama, makan bersama, dan bergotong-royong bersama membuat suatu hidangan makanan yang dinikmati bersama sanak saudara. Kegiatan mebat tidak hanya dilakukan untuk upacara Dewa Yajna tetapi juga dilakukan pada saat perayaan keagamaan lainnya seperti, Bhuta Yajna, upacara Manusa Yajna dan Pitra Yajna. Tujuan dari adanya tradisi mebat tidak hanya untuk menyajikan makanan pada perayaan hari-hari keagamaan saja, tetapi juga bertujuan untuk menjaga tradisi di Bali yang sudah ada sejak turun-temurun. Mebat memiliki nilai-nilai penting yang terkandung dalam tradisi mebat ini diantaranya pelestarian kebudayaan dari leluhur, kearifan lokal dan suatu keterampilan yang khas warga Bali dalam meracik makanan

Downloads

Download data is not yet available.
Published
2020-03-30